tidak akan berhenti berjalan sebelum sampai ketempat semula (tidak akan mati sebelum ajal menjemput)
Senin, 13 Oktober 2008
SIAL DI HARI LEBARAN
Tiba saatnya jam 5 pagi saya bersama istri dan anak berangkat dari Muntilan menuju Klaten, jalan amat sangat sepi tidak seperti biasa jalan yang selalu padat, maka dengan santai kami menelusuri jalan Muntilan Yogya yang sangat lengang. Tetapi sial tidak dapat dikira apalagi ditolak, sesampai di Semen (sebelah Masjid Semen) Ban belakang sepeda motor saya bocor, mati aku hari gini pasti tidak ada tambal ban yang buka. Kami berhenti sebentar dan merenung apa yang harus kami lakukan? Akhirnya saya putuskan jalan nuntun sepeda motor siapa tahu ada bengkel yang buka. Memang ada tambal sepeda tapi tukang tambalnya tidak ada di tempat karena memang tidak tinggal di situ. Setelah sampai di Jembatan Krakitan saya putuskan nuntun sepeda motornya berbalik arah saja. Dalam benak saya kalau tidak ada tambal ban yang buka kaki saya, anak dan istri saya bisa semplak sampai di Klaten.
Perjalanan nuntun sepeda motor berbalik arah menuju ke Muntilan, kalau terpaksanya tidak ada tambal ban pulang ke Muntilan lebih dekat dari pada ke Klaten. Sesampai di pertigaan Semen (jalan menuju ke Ngluwar) bertemu dengan bapak-bapak tukang ojek yang baik, dengan ramah bapak-bapak tersebut menunjukkan bengkel tambal ban yang dihuni oleh tukang tambal bannya. Syukurlah ini mungkin akhir nuntun sepeda motorku yang melelahkan. Oleh bapak-bapak tadi ditunjukkan bahwa tambal ban di depan sebelah kanan POM bensin Gremeng (diseberang jalan) di huni oleh pemiliknya. Setelah saya menyampaikan terima kasih kepada bapak-bapak tersebut akhirnya saya menyeberang jalan dan menuju ke tempat tersebut dengan harapan bisa membantu menambal banku.
Sesampai di tempat tersebut walaupun ragu saya beranikan diri untuk mengetuk pintu. Setelah beberapa kali mengetuk pintu akhirnya pintu dibukakan sedikit yang kelihatan adalah wanita cantik walaupun baru bangun tidur dibalik daun pintu. Nuwun mbak badhe nyuwun tulung nambalke ban, itu kalimat saya dengan sopan minta tolong. Dengan cepat wanita tersebut menjawab nembe tutup mas dan langsung menutup pintunya. Habislah harapanku. Akhirnya saya istirahat di depan rumah tersebut. Karena di depan rumah tersebut ada (lincak) kursi panjang dari bambu maka anakku yang baru umur 6 tahun istirahat sambil tiduran. Saya kembali merenung mengapa saya menjadi orang miskin? motor saja sudah tua sering mogok dan bannya bocor. Mengapa saya tidak bisa menjadi orang kaya? yang bisa mempunyai mobil mewah yang tidak bisa mogok dan tidak bisa bannya bocor? Apakah di hari raya yang fitri ini kita tidak bisa membantu orang lain yang sedang kesusahan? Apakah dihari raya ini kita harus hanya kunjung- mengunjung, memakai pakaian baru dan makan yang enak-enak?
Setelah rasa capeknya berkurang dan merenungnya selesai kembali kami melanjutkan perjalanan. Kembali beberapa tambal ban kami temukan tetapi lagi-lagi tidak ada orangnya, sampai-sampai saya harus ngintip beberapa bengkel tambal ban memang gelap dan tidak ada penghuninya. Beberapa orang yang kami temuan di jalan saya tanyai dan selalu mengatakan tukang tambal bannya tidak tinggal di situ. Setelah perjalanan agak jauh ada seorang bapak naik sepeda motor berhenti hanya ingin memberi tahu bahwa di seberang jalan dekat pusat oleh-oleh Sandi ada tukang tambal ban yang orangnya tinggal di situ. Dengan harapan yang tipis saya lagi-lagi menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh bapak tadi. Di situ ada ibu yang sudah agak tua maka saya bilang : Bu nyuwun tulung badhe nambalke ban (bu minta tolong akan nambal ban), ibu tersebut agak ragu mau menjawab, niki nembe tutup ki mas, mangke nek bikak di seneni anake ( ini baru tutup mas kalau buka nanti dimarahi anaknya). Saya bisa memahami sebenarnya ibu ini mau membantu tapi ragu kalau anaknya marah. Mungkin anaknya berpendapat di hari raya harus istirahat, pegawai dan pejabat saja pada cuti kok. saya pun bisa memahami pendapat anak ibu tersebut. Saya berpikir sejenak saya harus bagaimana? tiba-tiba ada orang setengah baya yang mendekat, maaf penampilannya agak sangar dan kurang bersih. Orang tersebut mengatakan pada ibu setengah baya tersebut mbah bukakno tak tambalke, mesakne mlakune wis adoh kok (Mbah di buka saja nanti saya tambalkan, kasihan jalannya sudah jauh) . Rupanya orang tersebut sudah melihat saya, anak dan istri saya berjalan jauh dan merasa kecapekan dan timbul rasa iba untuk membantu saya. Maka setelah dibuka mas ini membantu mengganti ban belakang saya. Syukur alhamdulillah masih ada orang yang baik hati. Sambil menunggu menyelesaikan mengganti ban, saya kembali merenung, menilai orang tidak bisa dari luarnya saja. Orang yang berpenampilan sangar ternyata baik hati dan mau membantu orang yang sedang berkesusahan tanpa melihat siapa orangnya, karena saya dan orang tersebut memang tidak kenal. Sebaliknya orang yang berpenampilan cantik mendengarkan perkataan orang saja tidak mau apalagi membantu.
Akhirnya mengganti ban selesai dan saya membayar sesuai tarip yang ditentukan pemilik bengkel, sebagai rasa terima kasih saya, saya berikan uang sekedarnya untuk orang yang baik hati mau menolong sesamanya. Memang hanya itu yang bisa saya berikan tetapi saya yakin orang yang baik selalu akan mendapat yang baik pula. Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih dan saya melanjutkan perjalanan menuju ke Klaten.
Di sepanjang perjalanan sangat sepi hanya beberapa mobil dan motor yang lewat. Tetapi ada keanehan yang saya temui di sepanjang jalan, walaupun jalan sepi dan tidak ada petugas polisi yang jaga pengguna jalan pada tertip semua. Pada lampu bangjo di sepanjang jalan, kalau lampu merah pada berhenti walaupun jalan sepi. Tidak seperti hari-hari biasa jalan ramai kalau tidak ada petugas banyak yang ngeblong lampu banjo. Jika setiap hari kondisi jalan pada tertip seperti ini betapa nyamanya pengguna jalan kita.
Minggu, 07 September 2008
Seminar Guru Matematika dan Fisika
- Input kemampuan peserta didik rendah
- Siswa berasal dari keluarga menengah kebawah
- Sekolah cukup dikenal diberbagai kalangan
- Biaya pendidikan cukup murah
- Fasilitas cukup memadai
- Outputnya sangat tinggi
Aplikasi Kontruktivisme dalam pembelajaran matematika oleh Dr. Susento, M.S. Perkembangan Psikologi belajar dari behaviorisme (belajar adalah perubahan perilaku), Kognitivisme (belajar adalah pemerolehan pengetahuan) dan sekarang Kontruktivisme (belajar adalah kontruksi pengetahuan) itu perkembangan di dunia dan Indonesia tertinggal kira-kira 10 - 15 tahun.
Pengetahuan teknologi, konten, pedagogi (PTKP) oleh Irlan Rahardja. PTKP adalah kombinasi dari teknologi, pedagogi, konten dan pengetahuan. Pengajaran efektif dengan teknologi membutuhkan pemahaman yang saling bermanfaat untuk menguatkan hubungan antara ketiga elemen secara bersama dalam pengembangan yang tepat, konteks strategis spesifik dan mewakilinya. Pengembangan PTKP : Pengenalan (pengetahuan), Penerimaan (persuasi), Adaptasi (keputusan), Eksplorasi (implementasi), Kemajuan (konfirmasi).
Gagasan tentang konektivisme dan penerapannya di sekolah oleh Arif Abadi Surya. Dunia pendidikan Indonesia menghadapi 3 masalah :
- Mutu pendidikan yang tidak merata dan sebangian besar mutunya rendah
- Keikutsertaan dalam dunia pendidikan yang tidak merata dan tingkat keikutsertaan yang rendah.
- Manajemen pendidikan yang tidak merata dan sebagian besar bermutu rendah.
Rabu, 20 Agustus 2008
PEMANTAPAN SERTIFIKASI

Pemantapan sertifikasi guru rayon 11 diadakan pada hari selasa, 19 Agustus 2008 di GOR UNY Yogyakarta yang diikuti oleh 5.203 guru dari 14 kabupaten provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Jumlah ini terdiri atas 4649 orang guru dari Depdiknas dan 554 guru dari Depag.
Pada acara ini hadir Dirjen Dikti Dr Fasli Jalal, Dirjen PMPTK Depdiknas Dr Baedhowi, Rektor UNY, Rektor Universitas Sanata Dharma, Rektor Universitas Sarjana Wiyata, Rektor Universitas Ahmad Dahlan, juga dihadiri para bupati dan kepala Dinas.
Untuk penerbitan SK, para guru (PNS) yang telah lulus uji sertifikasi harus memenuhi tiga syarat pokok, yakni menyerahkan foto copy SK kenaikan gaji terakhir, SK beban mengajar dari kepala sekolah dan foto copy rekening bank.
Syarat bagi guru non-PNS atau swasta, selain tiga syarat di atas juga harus melampirkan SK Guru Tetap Yayasan untuk in-passing jabatan fungsional guru. ada syarat lain yang harus dipenuhi oleh para guru yaitu harus mengajar 24 jam tatap muka selama 1 minggu sesuai bidang uji kompetensinya, bila masih kurang dapat mengajar di Kejar Paket A, B atau C, atau boleh juga mengajar di sekaloh lain.
Dari 5.203 guru yang lolos sertifikasi, Guru SLB yang diangkat Propinsi DIY dari Diknas sebanyak 43 orang, Kabupaten Bantul sebanyak 389 guru (Diknas 336 dan Depag 53), Sleman sebanyak 503 guru (Diknas sebanyak 437 dan Depag sebanyak 66), Gunungkidul sebanyak 384 guru (Diknas 347 dan Depag 37), Kulonprogo sebanyak 245 guru (Diknas sebanyak 210 dan Depag 35), Jogja sebanyak 287 guru (Diknas 257 dan Depag 30).
Sisanya berasal dari Kabupaten Cilacap 489 guru, Banyumas 449 guru, Purbalingga 310, Banjarnegara sebanyak 289, Kebumen sebanyak 614, Purworejo sebanyak 306, Kabupaten Magelang sebanyak 543, Temanggung sebanyak 245 dan Kota Magelang sebanyak 104 guru.
Tujuan sertifikasi guru tujuannya antara lain untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan juga meningkatkan kesejahteraan guru, tapi sayang kita juga tidak tahu kapan tunjangan profesi itu sendiri akan turun.
Acara pemantapan sertifikasi guru tersebut diawali dengan berdesak-desakan karena sebanyak 5.203 guru tersebut harus membayar Rp50.000,00 dalam beberapa loket dan pembayaran harus kolektif dengan guru yang lain ditempat itu juga. Akhir acara juga dengan semrawut karena pembagian sertifikat sebanyak itu juga tidak jelas, ada yang berdesakan untuk mengambil, ada yang dibawa kedinas kabupaten/kota bahkan ada juga yang dibagi di tempat dengan memanggil satu persatu.
Rabu, 13 Agustus 2008
Sabtu, 09 Agustus 2008
Sinetron dan Sekolah
Sinetron dan Sekolah
Media informasi berkembang begitu cepat, saat ini televisi sudah merambah kesemua lapisan masyarakat. Televisi sebagai sarana mendapatkan informasi, juga sebagai sarana hiburan. Stasiun pemancar televisi juga berkembang pesat dan dapat diterima sampai pelosok-pelosok desa. Seharusnya siaran-siaran televisi tersebut dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran masyarakat supaya bangsa kita lebih maju. Tetapi siaran-siaran televisi seperti sinetron menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat, terutama anak-anak muda yang masih duduk dibangku sekolah.
Tema-tema sinetron di televisi, sebut saja pengantin remaja dan kawin muda yang baru menjadi trend kaum muda di
Bukan berarti saya tidak setuju sinetron, tetapi lebih baik kalau temanya yang mendidik dan jam tayangannya disesuaikan. Bagi orang tua sebaiknya memberi teladan dengan membatasi diri menonton sinetron. Bagi kaum muda gaya hidup seperti kawin muda, tindikan (pakai anting bagi laki-laki), potongan rambut, tato dan gaya busana itu hanya trend yang sifatnya sementara. Jangan melakukan tindakan yang permanen yang membekas pada diri Anda dan justru akan merugikan Anda sendiri di masa depan.
Keluarga Sebagai Basis Pendidikan
KELUARGA SEBAGAI BASIS PENDIDIKAN
Menemukan Indahnya Cinta Tuhan dalam Semangat Persaudaraan dalam Karya, itulah tema yang diambil dalam rekoleksi masa Pra Paskah Yayasan Marsudirini Kompleks Muntilan. Rekoleksi ini diadakan pada tanggal 24 Februari 2007 di rumah Retret Santo Fransiskus Muntilan, diikuti oleh guru dan karyawan TK Santa Theresia, SD Marsudirini, SMP Marganingsih dan SMA Marsudirini Muntilan. Rekoleksi yang sangat meriah dan dalam suasana kegembiraan ini dibimbing oleh Romo Carol MSF dari Pusat Pendampingan Keluarga Keuskupan Agung Semarang. Inilah hasil permenungan kami dari rekoleksi tersebut.
Setelah perkenalan singkat Romo Carol memaparkan situasi konkrit yang memprihatinkan saat ini antara lain :
1. Merosotnya nilai-nilai dasar keluarga. Anggota keluarga sibuk dengan kegiatannya sendiri, jarang ada waktu luang untuk sekedar berkumpul bersama keluarga, yang lebih parah banyak yang kesetiaan terhadap keluarga mulai luntur.
2. Perceraian dan pernikahan kedua.
3. Perkawinan campur. Di Keuskupan Agung Semarang perkawinan campur cukup besar sekitar ada setengahnya dari perkawinan yang ada.
4. Dampak negatif globalisasi.
5. Pendangkalan iman dan pindah agama.
6. Individualisme, hedonisme, konsumerisme, pornografi, sekularisasi dan lain-lain. Sifat individualisme, mikir dirinya sendiri sudah menjangkit dari anak-anak sampai orang tua. Manusia sekarang bersifat hidonisme, semangat menikmati, apa saja dinikmati sehingga nilai-nilai yang lain dikurbankan. Manusia sekarang juga bersifat apa saja dipakai, di beli kalau mampu tanpa memikirkan butuh atau tidak, juga mengukur keberhasilan orang dari duniawi, harta dan uang. Itulah virus-virus yang akan merusak keluarga dan pendidikan kita.
Dari keadaan seperti itu maka fokus perhatiannya pada :
1. Keluarga sebagai basis penanaman habitus dan budaya baru. Di dalam keluarga harus ditanamkan budaya damai, saling memaafkan, cinta dan kepedulian serta penanaman dan pewarisan iman.
2. Budaya sayang kehidupan. Harus ditanamkan budaya menghargai Tuhan, Menghargai orang lain dan menghargai lingkungan.
Peran keluarga sangat penting dalam perkembangan gereja, karena gereja memang harus dimulai dari keluarga. Evangelisasi seharusnya dari keluarga, untuk keluarga dan bersama keluarga. Keluarga juga merupakan tempat pertama untuk pendidikan anak sebelum ia didik oleh sekolah atau lembaga-lembaga lain. Karena pentingnya peran keluarga dalam kehidupan menggereja atau bermasyarakat, maka acara dilanjutkan dengan diskusi kelompok. Diskusi dengan materi : Apa yang membuatku bahagia, Apa yang membuatku prihatin dan Apa yang kuharapkan dan Apa sumbanganku dalam keluarga. Diskusi berlangsung sangat meriah, masing-masing kelompok memplenokan hasil diskusi kelompoknya dan membuat yel-yel yang kreatif dan kompak. Ada yang mengambil yel-yelnya mbah Maridjan, Rosa-rosa, ada juga yang mengambil nama Thukul.
Setelah diskusi selesai dilanjutkan lagi pemaparan dari Romo Carol MSF tentang relasi suami istri. Hubungan suami istri seharusnya berdasarkan :
1. Kecocokan; kecocokan bukan masalah selera tetapi harus mengubah diri.
2. Mencintai berarti memberi tanpa meminta apapun.
3. Relasi yang kuat didasarkan pada penyesuaian diri
4. Suami istri adalah padanan, parnert sampai mati.
5. Bersikap jujur dan terbuka antara suami istri
6. Berterima kasih kepada pasangan.
7. Berbagi cerita lucu
8. Memaafkan dan meminta maaf pada pasangan.
9. Membuat pasangan merasa bangga dan percya diri
10. Memperlakukan dengan penuh pengertian.
11. Menahan diri tidak banyak mengeluh.
Peran orang tua (suami istri) dalam keluarga yang sangat penting adalah mendidik anak-anaknya. Hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam mendidik anak berdasarkan buku karya pasangan suami istri Drs. AL. Soerjanto dan Dra. M. Widiastoeti Soerjanto adalah sebagai berikut :
1. Perkawinan yang disiapkan dengan baik
2. Pemberian gizi yang cukup
3. Pemberian teladan hidup
4. Perhatian dan kasih sayang
5. Suasana yang demokratis
6. Latihan bekerja
7. Teguran yang bijaksana
8. Perhatian pada ”tangki cinta”
9. Kedisiplinan
10. Kerahasiaan konflik internal
11. Simpati dan empati
12. Pendampingan
13. Persahabatan
14. Keutamaan-keutamaan
15. Perlunya rahmat Allah
16. Doa yang tulus
Pendidikan anak dibidang iman tidak kalah pentingnya. Yang dimaksud dengan pendidikan iman ialah proses dan usaha-usaha orang dewasa untuk membantu anak-anak agar mereka mampu menghormati dan mengasihi Allah. Faktor-faktor pendukung perkembangan iman anak adalah sebagai berikut :
1. Keyakinan dalam diri anak bahwa dirinya dianugerahi Allah berbagai talenta.
2. Teladan iman dari orang tua dan orang-orang dewasa yang lain.
3. Rasa aman untuk mengagumi dan bertanya.
4. Dorongan untuk mencintai alam beserta segala isinya.
Selesai pemaparan-pemaparan materi tersebut dilanjutkan dengan wisata iman, yang diisi dengan permainan-permainan yang diikuti oleh semua peserta rekoleksi dengan antusias walaupun waktu itu hujan cukup deras. Akhirnya rekoleksi selesai dan ditutup dengan Misa Kudus oleh Romo Carol MSF. Dalam Misa tersebut ada peserta yang menyampaikan kesan ”betapa bahagianya kalau hidup ini di jalani dengan ceria, tidak ada marah dan tidak ada dendam”. Terima kasih Romo, Terima kasih Suster, terima kasih semua. Berkat Tuhan.
B.S. Subekti
Pengajar Matematika SMP Marganingsih Muntilan
