Rabu, 16 November 2011

PALSU

Ada seorang kyai kondang yang menyatakan bahwa mubaligh yang asli dan yang palsu kadang honornya lebih besar yang palsu. Memang banyak yang demikian terjadi. Coba rumput asli dan yang palsu yang biasa digunakan pada lapangan sepak bola pasti mahal yang palsu. makanya banyak siswa pada ajang SEA Games yang diadakan di Jakarta dan palembang lebih memilih suporter palsu dari pada suporter beneran.Suporter palsu (bayaran) memang dibayar oleh negara yang menyewanya, tetapi suporter asli malah membayar. Mungkin suporter Asli Hanya satu alasan menjadi suporter yaitu rasa Nasionalisme. Memang sangat ironis pemerintah meliburkan siswa hanya untuk menjadi suporter palsu, Padahal kondisi pendidikan kita saat ini masih memprihatinkan. Tetapi yakinlah asli tetap asli dan tidak akan berubah seperti emas asli yang selalu dicari orang.

Kamis, 06 Oktober 2011

Bapak dan Simbok

Aku anak kelima dari lima bersaudara, dilahirkan di sebuah dusun nun jauh disana. Di Klaten, tepatnya Klaten kemringet, perbatasan dengan kabupaten Sukoharjo dan dekat dengan Kabupaten Wonogiri. Bahkan temanku dari kota Semarang waktu datang ke rumahku, sempat tanya " iki ya masih Indonesia?" Jawabku ya jelas masih, sini wilayah Indonesia yang berbatasan dengan Irak, jawabku ngawur saja.
Ini menunjukkan bahwa tempat asalku dari sebuah desa yang jauh dari kota dan kehidupan keluargaku sangat kekurangan.Bapakku Petani gurem yang hanya punya 3 petak sawah, itupun sering digadaikan untuk membiayai sekolah anaknya. Simbokku seorang pembuat dan sekaligus menjual tempe.
Aku sangat ingat betul masa kecilku bersama keluarga, karena aku anak yang paling kecil (ragil begitu panggilanku dirumah), aku hidup dimanjakan dibanding dengan saudara-saudaraku (manja dalam kekurangan). Jika ada pembagian makanan misalnya, aku selalu diberi lebih oleh mbokku (begitu aku menyebut ibuku). Ada kejadian yang tidak dapat saya lupakan setiap datang musim kemarau atau awal musim penghujan, Persediaan beras menipis, (sangat ironis petani kok tidak punya beras,tetapi itu kenyataan) keluargaku selalu mengganti nasi dengan tiwul. Tetapi mbokku selalu menyisihkan sedikit beras untukku, Mbokku selalu menanak sedikit nasi dan tiwul, lha jatah saya dipiring bagian bawah diberi nasi dan atasnya diberi tiwul,sedang kakak-kakaku tiwul semua (waktu itu makan dijatah 1 piring).
Bapak simbokku bekerja membanting tulang untuk kelima anaknya, memang yang paling berat untuk membiayai anak-anaknya sekolah. Kenyataannya anak-anaknya sekarang sudah berkeluarga semua dan hidupnya lebih layak,walaupun tidak kaya. Itulah perjuangan bapak simbokku untuk anak-anaknya.
Sekarang bapak simbokku sudah tua renta, bapak berumur 80 tahun dan simbok berumur 73 tahun. Bapak pendengarannya sudah terganggu dan simbok yang terganggu penglihatannya. Bapak dan simbok hidup berdua dirumah yang dulu kita tingaali bersama. Hanya kadang kita berkumpul di rumah itu, waktu lebaran atau natal. Kalau berkumpul anak dan cucunya berjumlah 21, bapak simbokku merasa bahagia walaupun dengan pendengaran dan penglihatan berkurang. Aku sebagai anaknya meras trenyuh melihat itu semua. Bapak dan simbok tidak mengeluh bahkan selalu bersyukur walaupun dalam keadaan seperti itu. Apa yang dapat kulakukan untuk Bapak Simbokku??

Rabu, 07 September 2011

INSTAN

Apa yang tidak dapat dilakukan dengan cepat pada saat ini? hampir semua bisa dicapai dengan instan. Makanan instan ada dimana-mana, murah lagi. Bimbingan belajar menawarkan cara cepat dari membaca cepat, menghadapi tes maupun ujian dengan memberi garansi uang kembali jika target tidak tercapai. Mengurus surat-surat di kantor pemerintahan juga bisa dibuat cepat. Saya punya pengalaman sewaktu mau memperpanjang SIM, saya menghadap petugas yang memakai seragam dan petugas itu menawari mau naik kereta ekonomi atau ekspres pak?? " Maksudnya apa pak " jawab saya pura-pura bloon (padahal wajahnya ya bloon betul). Kalau ekonomi lama tetapi kalau ekspres cepat tetapi tahu sendiri ongkosnya berbeda, jawab petugas tadi.

Dari hal itulah saya berpikir bahwa sekarang banyak hal yang dilakukan secara instan, tetapi untuk menjadi ahli harus melalui proses. Proses kehidupan inilah yang akhirnya membentuk karakter kita sehingga makin hari hidup kita makin sempurna.

Sabtu, 06 Agustus 2011

BEDA

Pada saat aku masuk akan mengajar disuatu kelas, kok kelasnya agak gelap, pikirku, ternyata gorden jendela masih ditutup. Karena saya merasa gelap padahal diluar terik matahari sangat terang, maka saya minta gorden jendela di buka, "jangan pak!!!" jawaban serempak hampir semua siswa berteriak. Saya penasaran sebetulnya ada apa tho???
Akhirnya saya putuskan untuk menyibak sedikit gorden jendela supaya bisa melihat keluar, setelah gorden saya sibak sedikit dan melihat keluar, ada salah satu siswa yang berteriak, " Pak guru porno", setelah saya melihat sebentar keluar kelas gorden saya tutup kembali. OOO itu yang dianggap porno oleh anak-anak, ternyata diluar ada jemuran pakaian dan maaf ada juga pakaian dalam.
Sebenarnya bagi saya melihat seperti itu sudah biasa karena saya tinggal di perumahan yang tipenya kecil-kecil sehingga tiap hari kalau menjemur pakaian di pinggir gang depan rumah.
Saya baru sadar ternyata sesuatu yang sama dapat dimaknai lain oleh orang yang berbeda.
Kita memang diciptakan Tuhan berbeda adanya, tetapi dengan berbeda kita akan hidup serasi, bagai gelas dan tutupnya.

IRIT atau PELIT

Ada teman yang mengatakan irit dengan pelit itu berdekatan atau batasnya tipis, orang yang irit cenderung pelit. Menurut saya irit lebih pada diri sendiri, sedangkan pelit berhubungan dengan orang lain.
Hidup irit boleh dikatakan hidup sederhana, bersahaja, tidak berlebihan. Misalnya kita pergi kekantor dapat ditempuh dengan jalan kaki dan tidakk ada halangan yang berarti maka tidak usah pakai mobil walaupun kita punya. Kita masih bisa mengguanakan kertas yang sebaliknya kosong maka kertas tersebut jangan dibuang.
Kalau pelit, misalnya ada pengemis yang membutuhkan dan minta kepada kita, kita jawab tidak punya padahal punya.
Kalau orang tua mendaftarkan anaknya ke sekolah baru dan berpura-pura jadi orang miskin padahal kaya, pelit itu namanya. Jika uang sekolah anaknya naik, misalnya 10 ribu rupiah per bulan padahal ini sudah sesuai dengan kebutuhan di sekolah, orang tua protes. Sementara orang tua untuk membeli rokok meningkat 50 ribu per bulan, bisa beli atau orang tua males nganter anaknya ke sekolah dan disuruh naik becak pulang pergi 8 ribu rupiah per hari, juga bisa bayar, orang ini juga pelit.
Bisa saja kita hidup irit tapi tidak pelit.

Bahasa Jawa

Pada tanggal 6 Juni 2011 saya mendapat tugas mengawasi ulangan kenaikan kelas (UKK) kelas VII dan VIII mata pelajaran bahasa Jawa. Mata pelajaran bahasa Jawa yang merupakan muatan lokal propinsi Jawa Tengah dirasakan cukup berat oleh sebagian siswa, maklum saja anak-anak ini berasal dari luar Jawa Tengah dan Daerah istimewa Yogyakarta yang pada waktu sekolah di SD tidak ada bahasa Jawa.
Sebagian besar dari anak diluar Jawa Tengah dan DIY ini ogah-ogahan, males dan tidak punya semangat. Bahkan ada yang waktunya baru berjalan 15 menit dari 90 menit yang disediakan sudah tidur-tiduran. Tetapi ada satu siswi yang mungkin berasal dari daerah Indonesia timur ( dilihat dari kulit dan rambutnya) saya lihat berusaha dengan keras sampai waktunya kurang dari 10 menit menjelang 90 menit.
Saya mendekati siswa tersebut dan saya coba lihat hasil pekerjaannya dan juga saya lihat soalnya ternyata jawabannya banyak yang benar, menurut saya ( saya bukan guru bahasa Jawa, tetapi saya orang Jawa dan keseharian berbahasa Jawa )
Setelah bel tanda waktu mengerjakan habis saya tanya kepada siswi tersebut, bisa tidak mbak?? jawabnya : "yang penting berusaha pak", masalah hasil dipikirkan belakangan. Sungguh jawaban yang hebat, pikirku. Bukankah dalam hidup ini yang penting berusaha??. Masalah hasil, memang harapanya baik, tetapi kalau hasilnya tidak baik itu sebagai pengalaman dan kita harus mawas diri serta berusaha lagi.
Sebagai manusia sebaiknya kita berusaha dan mempunyai harapan, tetapi hasil apapun patut kita syukuri dan diambil hikmahnya dan selalu pasrah pada Tuhan.

Kamis, 21 Juli 2011

Kini dan Disini

Banyak siswa yang tidak tahu waktu dan tempat untuk berbuat apa. Banyak siswa yang sedang apel pagi malah belajar sebaliknya jika diberi kesempatan belajar mandiri baik di dalam atau di luar kelas malah tidak belajar (ada yang cerita bahkan mainan ). Kejadian seperti ini selalu diingatkan oleh guru tetapi juga selalu diulangi.
Jika waktu kapan dan tempat dimana harus melakukan apa tidak diperhatikan maka akan menjadi orang sibuk yang tidak habis-habis berkegiatan dan akhirnya stresss.
Menjadi orang yang tidak merencanakan kegiatan dengan waktu dan tempatnya hanya akan selalu melakukan hal-hal yang mendadak. Padahal ada pepatah "Hanya orang gila yang bekerja tanpa rencana".
Sebaiknya siswa diajari merencana kegiatan seperti yang dituliskan oleh Stephen R. Covey Dalam bukunya " Seven Habbit " yang mengatakan kita bekerja dikuadran III, merencanakan yang penting tetapi tidak mendadak.