Menurut Walikota Yogyakarta Herry Zudianto yang juga ketua Dewan Pembina PSIM Yogya menyatakan kegagalan kongres PSSI menjadi kado busuk bagi Bangsa Indonesia di hari Kebangkitan Nasional yang ke 103.
Masih menurut Herry Kegagalan itu menunjukkan bahwa kita sebagai bangsa kehilangan orientasi kebangsaan, kehilangan kepemimpinan yang mampu merajut kebersamaan cita-cita. Ini merupakan prestasi yang memalukan dan menjadi kado busuk bagi bangsa Indonesia di hari Kebangkitan Nasional. ( Kedaulatan Rakyat, Minggu Kliwon 22 Mei 2011).
Saya sendiri yang rakyat bawah pecinta sepak bola tidak habis pikir uang 2M hanya digunakan untuk pertunjukan interupsi, tunjuk jari, teriak, memaki dan saling menyalahkan. Logika sederhana saja tidak bisa menerima semua yang ikut kongres menyatakan akan membangun sepakbola Indonesia, ttapi kelakuannya seperti itu. BETUL kata pak walikota Yogya seperti anak-anak TK.
Jangan renggut kebanggaan rakyat Indonesia akan sepak bola, karena banyak pemimpin bangsa yang tidak bisa dibanggakan.
Tidak peduli kelompok 78, kelompok nurdin halid atau kelompok setanpun kalau mau menghancurkan sepak bola Indonesia musuhnya rakyat Indonesia. HIDUP SEPAK BOLA.
tidak akan berhenti berjalan sebelum sampai ketempat semula (tidak akan mati sebelum ajal menjemput)
Minggu, 22 Mei 2011
Kamis, 19 Mei 2011
Bangkit Bersama
Tanggal 20 Mei 2011 diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, kita sebagai anak bangsa Indonesia harus bangkit dari keterpurukan.Sebagai anak bangsa memang kita resah dengan kejadian-kejadian di republik ini. Berita tentang teroris, bom dimana-mana, NII, korupsi di lembaga-lembaga pemerintahan, amuk masa, orang kecil selalu menjadi sasaran ketidak adilan. Tetapi kita sebagai anak bangsa harus bangkit supaya bangsa kita yang kaya sumber alam ini menjadi bangsa yang besar dan dapat bersaing dengan bangsa-bangsa yang maju di dunia.
Rabu, 22 Desember 2010
Selamat Hari Ibu
Pada tanggal 22 Desember 2010 diperingati sebagai hari ibu. Ibu memang orang yang paling berjasa dalam hidup kita. SELAMAT HARI IBU.
Ada yang memperingati dengan cara bapak-bapak mencuci pakaian secara massal, ibu-ibu lomba dayung dan lain-lain.
Ada yang memperingati dengan cara bapak-bapak mencuci pakaian secara massal, ibu-ibu lomba dayung dan lain-lain.
Selasa, 21 Desember 2010
Begja Aku Jadi Guru
Dulu sekitar 1999 di Muntilan saya naik sepeda motor bututku plat Jakarta berangkat ke sekolah tanpa memakai helm, memang jarak kostku dengan sekolah hanya sekitar 500 m dan melewati jalan desa. Diperjalanan ada teman guru lain sekolah yang sedang berjalan kaki pergi ke sekolah karena masih pagi saya menawarkan diri untuk mengantar. Dan benar tawaran saya diterima dan minta diantar sampai bangjo pasar saja (sebutan untuk lampu rambu-rambu lalulintas di pertigaan dekat pasar Muntilan).Sesampai di bangjo,kebetulan lampu baru menyala merah dan semua kendaraan berhenti, begitupun saya dan teman saya tadi turun dan belok ke kiri dengan jalan kaki menuju sekolahnya. Saya berniat balik kearah semula ternyata saya baru sadar kalau jalan tersebut searah. Akhirnya saya terus maju melewati bangjo tersebut setelah lampu menyala hijau. Naas memang nasib saya ternyata didepan ada polisi yang siap menghadang sepeda bututku. Prittt, saya disuruh minggir dan "selamat pagi pak"saya jawab: selamat pagi. Mau ke mana pak? (belum saya jawab) Bapak polisi tadi sudah bertanya lagi kok tidak paki helm? iya pak jawabku. Bapak guru ya (mungkin polisi tadi melihat saya memakai baju PSH/seragam kas guru) lagi-lagi saya hanya menjawab ya sambil malu-malu jangan-jangan ada murid yang melihat saya.Mana kunci motornya dan bapak pulang jalan kaki menambil helm! kata pakpolisi dengan tegasnya, Begja aku, kaarena aku seorang guru, kalau tidak bisa-bisa aku ditilang atau disuruh titip uang denda. Mungkin bapak polisi tadi berpikir ini guru pasti tidak punya uang. Memang betul saya tidak punya uang, maklum guru GTT gajinya untuk makan saja tidak cukup, apalagi untuk membayar denda. Kalau benar-benar ditilang ya paling sepeda motor bututku saya suruh bawa sekalian, pikirku.
Setelah merenung sejenak akhirnya sayaberjalan belok kanan dan disana terlihat tukang oek di pos ojek yang baru menunggu penumpangnya. Akal bulusku muncul memang saat itu saya masih guru muda yang kreatif dan se maunya sendiri. Lha ini aada yang dapat membantu yaitu tukang ojek, sayahampiri tukang ojek dan setelah bercerita kesanakemari, saya sampaikan maksudku yaitu ingin pinjam helm. Tukang ojek tadi tanya: Pak guru ya, monggo silahkan bawa saja, "begja aku dadi guru", kalau tidak harus pulang jalan kaki betulan. Setelah dipinjami helm saya langsung jalan menuju pak polisi tadi. Kok cepet banget pak? iya pak wong rumahnya dekat, hanya situ itu lho. Setelah kunci diberikan langsung aku memakai helm dan mengendarai motor menuju pos ojek,terima kasih pak ojek. Begja aku dadi guru.
Setelah merenung sejenak akhirnya sayaberjalan belok kanan dan disana terlihat tukang oek di pos ojek yang baru menunggu penumpangnya. Akal bulusku muncul memang saat itu saya masih guru muda yang kreatif dan se maunya sendiri. Lha ini aada yang dapat membantu yaitu tukang ojek, sayahampiri tukang ojek dan setelah bercerita kesanakemari, saya sampaikan maksudku yaitu ingin pinjam helm. Tukang ojek tadi tanya: Pak guru ya, monggo silahkan bawa saja, "begja aku dadi guru", kalau tidak harus pulang jalan kaki betulan. Setelah dipinjami helm saya langsung jalan menuju pak polisi tadi. Kok cepet banget pak? iya pak wong rumahnya dekat, hanya situ itu lho. Setelah kunci diberikan langsung aku memakai helm dan mengendarai motor menuju pos ojek,terima kasih pak ojek. Begja aku dadi guru.
Selasa, 14 Desember 2010
SBY (Sumber Bencana Yogya)
SBY (Sumber Bencana Yogya) itulah bunyi spanduk besar saat sidang terbuka rakyat Yogyakarta pada hari senin 13 Desember 2010. Pada saat itu memang rakyat yogya menuntut Yogyakarta tetap merupakan daerah istimewa dengan penetapan Sri Sultan sebagai gubernur dan Paduka Sri Paku alam sebagai wakil gubernur.Saya memang bukan orang Yogyakarta tetapi Saya orang Klaten dan bekerja di Muntilan. Ada teman yang berseloroh pada saya kalau kamu ingin pulang ke Klaten harus mencari paspor dulu, karena harus melewati Yogya.
Kamis, 25 November 2010
Simbah Merapi Lagi Punya Gawe
Pada hari Selasa Pahing tanggal 26 Oktober 2010 sekitar pukul 18.30 menunjukkan kehebatannya yaitu dengan meletuskan diri. Di Muntilan, tempat aku dan keluargaku tinggal diguyur hujan kerikil. Waktu itu aku sekeluarga sedang santai sambil nonton televisi, kok kayaknya bau got mampet kata istriku, saya dan anakku bilang iya he, memang saat itu baru gerimis mungkin got depan rumah mampet. Karena penasaran istri saya keluar dan melihat kondisi got di depan rumah ternyata kondisi got baik-baik saja.
Akhirnya masuk lagi dan duduk-duduk bersama lagi, tidak selang berapa lama turun hujan kerikil berbarengan dengan gerimis. Warga di perumahanku panik tidak terkecuali saya dan keluarga.Bapak Ketua RT (Bapak M. Komarudin) memukul-mukul tiang telepon dan mengumumkan lewat pengeras RW, bahwa gunung merapi telah meletus dan warga diharap waspada. Warga yang mempunyai mobil kebanyakan pada meninggalkan perumahan untuk mengungsi. Walaupun hanya berlangsung kira-kira 15 menit hujan kerikil membuat suasana mencekam.
Erupsi merapi yang pertama ini menelan kurban jiwa : mbah Marijan dan beberapa orang di Cangkringan dan satu bayi dari Srumbung Magelang yang mengalami sesak nafas dan akhirnya meninggal. Suasana kota Muntilan setelah erupsi tgl 26 Oktober ini sungguh tidak baik untuk kesehatan karena debu vulkanik bertebaran dimana-mana dan membuat nafas menjadi sesak. Beberapa hari memang merapi erupsi terus tetapi arah debu tidak ke Muntilan. Ada teman yang mengatakan kalau sudah ada kurban jiwa maka merapi mereda. Saya merasa aman dan mulai bersih-bersih rumah. Tetapi pada tanggal 4 Desember 2010 pagi-pagi buta merapi meletus lagi dan muntilan hujan pasir deras sekali.Seperti biasa pagi itu kami sekeluarga menyiapkan aktifitas pagi untuk berangkat mengajar dan anakku sekolah. Karena hujan pasir yang begitu lebat anak dan istri nunut tetangga yang membawa mobil, sedangkan saya seperti biasa naik sepeda motor lengkap dengan jas hujan dan masker. Sesampainya dipintu gerbang sekolah saya dihampiri kepala sekolah dan menyampaikan kepada saya bagaimana kalau proses belajar tidak dilakukan dan siswa diharap pulang kerumah masing-masing, saya jawab iya karena memang kondisi tidak memungkinkan untuk belajar. maka guru-guru berdiri didepan pintu gerbang untuk memberi tahu siswa yang berangkat untuk pulang kembali karena suasana tidak memungkinkan untuk belajar.Hari itu Kota Muntilan gelap karena seharian penuh hujan abu bahkan listrik juga mati. Malam harinya menjelang tanggal 5 Desember Bumi di Muntilan bergetar, rumah-rumah serta jendela-jendela rumah bergetar dan berbunyi trekkk terus menerus.Inilah letusan merapi yang paling dasyat, rumah saya yang belakang ambrol. Malam menjelang pagi itu juga istri saya telepon adik yang berada di Ambarawa dan adik akan menjemput keluargaku untuk mengungsi. Setelah saya menghubungi kepala Sekolah dan sekolah dinyatakan libur serta sekolah digunakan tempat mengungsi, Akhirnya tanggal 5 Desember pagi kami mengunsi beserta keluarga pakde yang sebelumnya ngungsi dirumahku. Tanggal 11 Desember 2010 aku ke Muntilan dan melihat rumahku ternyata didalam rumah banjir karena rumah yang belakang sudah roboh dan air hujan masuk. Barang-barang yang berharga aku naikkan ketempat yang lebih tinggi supaya tidak kena air dan aku tinggal lagi mengungsi ke Ambarawa.Sabtu 13 Desember 2010 aku kembali ke Muntilan karena disekolahku ada rapat dan sekolah dimulai lagi hari seninnya. Setelah sampai dirumah ternyata rumah tidak layak huni, aku menghubungi kakak dan ponakanku untuk membantu beres-beres rumah. Minggu tanggal 14 Desember 2010 Kakak dan ponakan dari klaten datang dan ada juga paklikku dari Semarang dan bere-beres rumah, bahkan abu dan debu di depan rumah tebalnya kira-kira 20 cm.
( cerita ini dibuat bersambung)
Akhirnya masuk lagi dan duduk-duduk bersama lagi, tidak selang berapa lama turun hujan kerikil berbarengan dengan gerimis. Warga di perumahanku panik tidak terkecuali saya dan keluarga.Bapak Ketua RT (Bapak M. Komarudin) memukul-mukul tiang telepon dan mengumumkan lewat pengeras RW, bahwa gunung merapi telah meletus dan warga diharap waspada. Warga yang mempunyai mobil kebanyakan pada meninggalkan perumahan untuk mengungsi. Walaupun hanya berlangsung kira-kira 15 menit hujan kerikil membuat suasana mencekam.
Erupsi merapi yang pertama ini menelan kurban jiwa : mbah Marijan dan beberapa orang di Cangkringan dan satu bayi dari Srumbung Magelang yang mengalami sesak nafas dan akhirnya meninggal. Suasana kota Muntilan setelah erupsi tgl 26 Oktober ini sungguh tidak baik untuk kesehatan karena debu vulkanik bertebaran dimana-mana dan membuat nafas menjadi sesak. Beberapa hari memang merapi erupsi terus tetapi arah debu tidak ke Muntilan. Ada teman yang mengatakan kalau sudah ada kurban jiwa maka merapi mereda. Saya merasa aman dan mulai bersih-bersih rumah. Tetapi pada tanggal 4 Desember 2010 pagi-pagi buta merapi meletus lagi dan muntilan hujan pasir deras sekali.Seperti biasa pagi itu kami sekeluarga menyiapkan aktifitas pagi untuk berangkat mengajar dan anakku sekolah. Karena hujan pasir yang begitu lebat anak dan istri nunut tetangga yang membawa mobil, sedangkan saya seperti biasa naik sepeda motor lengkap dengan jas hujan dan masker. Sesampainya dipintu gerbang sekolah saya dihampiri kepala sekolah dan menyampaikan kepada saya bagaimana kalau proses belajar tidak dilakukan dan siswa diharap pulang kerumah masing-masing, saya jawab iya karena memang kondisi tidak memungkinkan untuk belajar. maka guru-guru berdiri didepan pintu gerbang untuk memberi tahu siswa yang berangkat untuk pulang kembali karena suasana tidak memungkinkan untuk belajar.Hari itu Kota Muntilan gelap karena seharian penuh hujan abu bahkan listrik juga mati. Malam harinya menjelang tanggal 5 Desember Bumi di Muntilan bergetar, rumah-rumah serta jendela-jendela rumah bergetar dan berbunyi trekkk terus menerus.Inilah letusan merapi yang paling dasyat, rumah saya yang belakang ambrol. Malam menjelang pagi itu juga istri saya telepon adik yang berada di Ambarawa dan adik akan menjemput keluargaku untuk mengungsi. Setelah saya menghubungi kepala Sekolah dan sekolah dinyatakan libur serta sekolah digunakan tempat mengungsi, Akhirnya tanggal 5 Desember pagi kami mengunsi beserta keluarga pakde yang sebelumnya ngungsi dirumahku. Tanggal 11 Desember 2010 aku ke Muntilan dan melihat rumahku ternyata didalam rumah banjir karena rumah yang belakang sudah roboh dan air hujan masuk. Barang-barang yang berharga aku naikkan ketempat yang lebih tinggi supaya tidak kena air dan aku tinggal lagi mengungsi ke Ambarawa.Sabtu 13 Desember 2010 aku kembali ke Muntilan karena disekolahku ada rapat dan sekolah dimulai lagi hari seninnya. Setelah sampai dirumah ternyata rumah tidak layak huni, aku menghubungi kakak dan ponakanku untuk membantu beres-beres rumah. Minggu tanggal 14 Desember 2010 Kakak dan ponakan dari klaten datang dan ada juga paklikku dari Semarang dan bere-beres rumah, bahkan abu dan debu di depan rumah tebalnya kira-kira 20 cm.
( cerita ini dibuat bersambung)
Jumat, 25 Juni 2010
NOL Kilo Meter
Setelah Operasi tumor otak dan proses penyembuhan, kehidupan saya dimulai dari NOL tapi saya bersyukur kepada Tuhan karena masih diberi kesempatan untuk hidup.
NOL Makan dan Minum: Bagi orang kebanyakan makan adalah sesuatu yang sangat mudah dan menyenangkan, tapi tidak bagi saya. saya tidak makan dan minum layaknya manusia biasa, makan dan minum lewat mulut. saya makan dan minum lewat sonde (selang yang dimasukkan lewat hidung sampai lambung) selama 7 bulan. Kalau mencoba makan dan minum pasti batuk-batuk dan kesasar masuk hidung, tapi saya bersyukur kepada Tuhan karena masih diberi kesempatan untuk hidup.Setelah sonde dilepas bukan berarti terus bisa makan layaknya orang biasa. Dimulai dari makan dan minum dengan sendok kecil atau sendok teh, dilanjutkan dengan sendok makan dan bisa makan biasa tapi makanannya harus berkuah dan akhirnya bisa makan sembarang walaupun harus pelan-pelan dan hati-hati kalau tidak bisa keselak-selak dan batuk-batuk.
NOL Berjalan : Bisa berjalan melalui proses yang panjang juga. Mulai belajar duduk, setelah bisa duduk mulai belajar berdiri dengan pegangan apa saja yang ada, dilanjutkan berjalan dengan menggunakan bantuan krek kaki empat seperti layaknya orang yang kena strok, dilanjutkan berjalan didalam rumah sambil berpegangan apa saja yang ada dan bisa berjalan biasa walaupun belum sekokoh dulu sebelum sakit, tapi saya bersyukur kepada Tuhan karena masih diberi kesempatan untuk hidup.
NOL Bicara dari bicara yang orang lain tidak bisa menangkap tetapi orang yang saya ajak bicara biasanya manggut-manggut tapi belakangan diakui bahwa dulu kalau bicara tidak jelas (manggut-manggut hanya untuk menyenangkan saya), terus bicara yang bisa menangkap orang-orang terdekat saja dan akhirnya bisa bicara yang bisa ditangkap orang lain, walaupun belum sejelas gaya bicara saya sewaktu belum sakit(kata orang suara saya dulu volumenya keras, memang saya seorang guru yang suaranya harus keras),tapi saya bersyukur kepada Tuhan karena masih diberi kesempatan untuk hidup.
Nol Keuangan : Memang biaya rumah sakit, terapi dan obat sangat banyak paling tidak menurut ukuran saya. Walaupun banyak dibantu oleh saudara, teman, tetangga, murid, mantan murid dan orang tua murid bahkan orang yang tidak saya kenal tetapi keuangan keluarga saya dimulai dari nol, tapi saya bersyukur kepada Tuhan karena masih diberi kesempatan untuk hidup.
Dan saya tidak peduli mau NOL atau bahkan Minus saya akan berjuang Untuk kehidupan ini. Karena saya yakin saya lebih berguna hidup dari pada mati. Seperti kata Pepeng : " Tidak akan mati sebelum ajal menjemput".
Semoga Anda tidak seperti saya, Tuhan Memberkati.
NOL Makan dan Minum: Bagi orang kebanyakan makan adalah sesuatu yang sangat mudah dan menyenangkan, tapi tidak bagi saya. saya tidak makan dan minum layaknya manusia biasa, makan dan minum lewat mulut. saya makan dan minum lewat sonde (selang yang dimasukkan lewat hidung sampai lambung) selama 7 bulan. Kalau mencoba makan dan minum pasti batuk-batuk dan kesasar masuk hidung, tapi saya bersyukur kepada Tuhan karena masih diberi kesempatan untuk hidup.Setelah sonde dilepas bukan berarti terus bisa makan layaknya orang biasa. Dimulai dari makan dan minum dengan sendok kecil atau sendok teh, dilanjutkan dengan sendok makan dan bisa makan biasa tapi makanannya harus berkuah dan akhirnya bisa makan sembarang walaupun harus pelan-pelan dan hati-hati kalau tidak bisa keselak-selak dan batuk-batuk.
NOL Berjalan : Bisa berjalan melalui proses yang panjang juga. Mulai belajar duduk, setelah bisa duduk mulai belajar berdiri dengan pegangan apa saja yang ada, dilanjutkan berjalan dengan menggunakan bantuan krek kaki empat seperti layaknya orang yang kena strok, dilanjutkan berjalan didalam rumah sambil berpegangan apa saja yang ada dan bisa berjalan biasa walaupun belum sekokoh dulu sebelum sakit, tapi saya bersyukur kepada Tuhan karena masih diberi kesempatan untuk hidup.
NOL Bicara dari bicara yang orang lain tidak bisa menangkap tetapi orang yang saya ajak bicara biasanya manggut-manggut tapi belakangan diakui bahwa dulu kalau bicara tidak jelas (manggut-manggut hanya untuk menyenangkan saya), terus bicara yang bisa menangkap orang-orang terdekat saja dan akhirnya bisa bicara yang bisa ditangkap orang lain, walaupun belum sejelas gaya bicara saya sewaktu belum sakit(kata orang suara saya dulu volumenya keras, memang saya seorang guru yang suaranya harus keras),tapi saya bersyukur kepada Tuhan karena masih diberi kesempatan untuk hidup.
Nol Keuangan : Memang biaya rumah sakit, terapi dan obat sangat banyak paling tidak menurut ukuran saya. Walaupun banyak dibantu oleh saudara, teman, tetangga, murid, mantan murid dan orang tua murid bahkan orang yang tidak saya kenal tetapi keuangan keluarga saya dimulai dari nol, tapi saya bersyukur kepada Tuhan karena masih diberi kesempatan untuk hidup.
Dan saya tidak peduli mau NOL atau bahkan Minus saya akan berjuang Untuk kehidupan ini. Karena saya yakin saya lebih berguna hidup dari pada mati. Seperti kata Pepeng : " Tidak akan mati sebelum ajal menjemput".
Semoga Anda tidak seperti saya, Tuhan Memberkati.
Langganan:
Postingan (Atom)